Eat Pray Love

Setelah kemarin, Kamis, 14 Oktober 2010 gue menyaksikan film ini (setelah sehari diputar di bioskop) bersama nyokap, sekarang gue akan menuliskan review. Yah, sebenernya sih tadinya gak niat mau nulis ginian, tapi berkat adanya request dari seorang teman, jadilah saya menulis ini.
Okay, cukup basa-basinya. Kita lanjut...



Eat Pray Love
Film yang diangkat dari novel fenomenal (Best Seller bisa disebut fenomenal ya kira-kira *bahasa lebaynya tepatnya*) ini bercerita tentang 'Perjalanan patah hati' seorang penulis wanita, Elizabeth atau Liz. Si Liz ini, mendadak hancur ketika ia sadar pernikahannya harus berakhir. Bahkan hubungannya bersama aktor seksi setelah perceraiannya pun tidak berakhir bahagia yang tentu membuatnya semakin hancur.
Ketika ia sadar bahwa di pagi hari ia terbangun dengan tidak adanya semangat hidup dan bahkan tanpa nafsu makan, ia memutuskan untuk segera meninggalkan New York selama sisa tahun itu dan berkemas menuju Italia, India dan Bali (Indonesia Tentunya. Agak kesel deh kalo orang-orang *Luar* nyebut Bali tanpa embel-embel Indonesia. Hey, Bali itu bukan negara, loh!!!).

Di Italia, Ia akan mencari makanan lezat yang bisa membangkitkan nafsu makannya yang hilang, ke India untuk belajar dan lebih mengenal tuhan dengan mengunjungi seorang Guru spiritual di India (Yang notabene adalah guru mantan pacar Liz, si aktor keren itu), dan yang terakhir ia akan ke Bali mencari ketenangan.

Perjalanan pun dimulai. Di Italia (Roma), ia menemukan orang-orang baik hati yang secara instan langsung jadi sahabatnya. Yah, hal yang sangat sulit ditemukan saat ini dan gue rasa, dia amat sangat beruntung bisa menemukan orang yang bener-bener baik. Di tempat itu, dia menemukan kembali selera makannya, (nafsu makan yang agak berlebihan menurut gue), juga pelajaran tentang mencintai orang lain dengan tulus. Wiiiiiii sounds great.

Tempat berikutnya, India, memang tak seindah dan senyaman Roma, Liz pun harus berjuang dan bekerja serta mengalami cobaan di tempat ini. Namun, teman-teman yang baik lagi-lagi ia temukan dan tentunya pelajaran yang bisa ia petik dari mereka. Gak ketinggalan, asupan spiritual dari semacam rumah ibadah yang ia singgahi itu.

Yang ketiga dan terakhir, Bali yang gue rasa digambarkan dengan sangat sempurna. Perfecto. Gak ada cacat sedikitpun rasanya ni tempat. Sepertinya sang penulis begitu mengagungkan Bali yah. Haha. Tapi itu bagus! Sangat bagus. :D
Di pulau yang indahnya gila-gilaan dan eksotis luar biasa ini (Yah, begitulah yang terlihat dan yang diperlihatkan), Liz menemui seorang dukun bernama Ketut Liyer yang sebelumnya juga pernah dia temui, dan belajar mengenai keseimbangan hidup.
Pendek kata, Di Bali, Liz berhasil menemukan dirinya, serta cintanya. Ia telah berhasil menyempurnakan semuanya. Semua yang telah ia pelajari sebelumnya.

***

Ketika menonton film ini, mata kita dimanjakan oleh pemandangan sudut-sudut kota di beberapa belahan dunia.Meskipun pemandangan di beberapa negara tidak selalu enak untuk dilihat, tapi rasanya tetap asik untuk diikuti karena mereka menampilkan hal-hal yang manarik.

Yang membuat film ini menarik perhatian tentunya adalah Setting yang menampilkan beberapa negara di dunia sekaligus (Khususnya indonesia). Kita semua juga pasti bisa membayangkan betapa sulitnya  melaksanakan pengambilan gambar di beberapa tempat di dunia seperti yang mereka lakukan itu. Tapi hasilnya cukup lumayan. Dengan bumbu humor yang terselip diantara adegannya, makin membuat film ini gak terasa membosankan.

***

Pelajaran yang gue dapet adalah:
- Kalo kamu stress karena perceraian dan/atau karena putus, pergilah ke Italia, India dan Bali. Pop! Maka masalah akan selesai.

Eh, gak gitu ya?
Pelajaran sesungguhnya yaitu:
-Percayalah. Buka hatimu, Lupakan yang telah berlalu dan buka lembaran baru.

Yeah, i think i have ever do what she did.
Dan sampai sekarang. Walaupun belum ada yang bener-bener kecantol dan menyantolkan banget (Apa ini?). Jadi, ga terlalu ada masalah soal ini.
Walaupun ada satu temen gue yang bener-bener merasa 'kena banget' setelah menonton film ini karena masalahnya yang hampir serupa dengan si 'liz'.
Yah, semoga ini bisa menjadi pelajaran yang baik bagimu, nak.
*Asli, tua banget gue*

***

Akhir kata, ini quote favorit gue dari Eat Pray Love, yang masih gue inget sejak kata-kata ini diucapkan sampai sekarang.
.
.

"This is a good sign, having a broken heart. It means we have tried for something. " 

Elizabeth Gilbert (Eat, Pray, Love)

.

Artinya dalam bahasa Indonesia, kira-kira:
"Mengalami patah hati adalah pertanda yang baik. Hal ini berarti- Setidaknya kita telah berjuang"

Wew. Such a good words.



***

CONVERSATION

0 COMMENTS:

Posting Komentar

Jika punya pertanyaan, silakan post Comment di bawah ^^

Back
to top