Musim Panas dan Sepasang Anjing

Sabtu, 24 Desember 2011


Beberapa hari yang lalu (Udah agak lama juga sih sebenernya) gue selesai membaca buku MPSA yang gue pinjam dari perpus kampus.
Waktu itu gue ga sengaja nemu pas lagi ngubek-ngubek lemari kaca di perpus.
Tau-tau aja ada 2 buku (berjudul sama) menampakkan diri. Langsung aja gue ambil salah satunya.


Kalo kata salah seorang teman, "Jangan-jangan itu horcrux!"
Hmm bisa jadi sih.
Tapi sampe buku itu dikembalikan, gue ga mengalami satupun keanehan, jadi kalopun buku itu horcrux, ilmunya ga akan mempan juga sama orang yang udah ga labil kayak gue :p

Apa deh kok jadi ngomongin horcrux. -_-
Padahal kan niatnya mo ngereview.

Oke balik ke topik.

Jadi buku "Musim Panas dan Sepasang Anjing" ini adalah kumpulan cerpen karya Rachmat H. Cahyono. Beberapa cerpen di buku ini pernah dimuat di Kompas.
Jelas, segmentasinya untuk dewasa. Kelasnya aja Kompas. Lagipula ada beberapa scene yang walaupun gak vulgar juga, tapi kurang cocok untuk dibaca oleh anak-anak. Kalo kata Dinni, adegan 'blablabla' explicit. :))

Walaupun gak semua, cerpen-cerpen di buku ini sebagian besar bersetting di salah satu kota di Korea Selatan, Busan. Dan kebanyakan berkisar pada kehidupan pekerja Indonesia di Korea.
Gak heran penulis banyak mengambil tema itu, karena pada saat beliau menulis cerpen-cerpen itu, dia sedang menetap di sana karena sang istri sedang bertugas di negara tersebut.

***

Sesungguhya bukan jalan cerita dari buku ini yang mau gue bahas. Tapi soal apa yang gue dapet setelah buku ini gue lalap habis.
Mungkin emang gak tertulis secara gamblang, tapi dari apa yang beliau ceritakan, kita bisa melihat kenyataan ini. Bahwa hidup di luar negeri itu keras.

Buku ini cukup banyak menyadarkan dan membuka mata gue (dan gue rasa kalian juga mesti sadari) bahwa Korea bukan semata-mata negara maju yang glamor dan menyilaukan. Ada sisi lain dari-nya yang juga harus kita tahu.

Yang gue liat dari apa yang digambarkan penulis, bukan ke-glamoran dan binar-binar kemewahan korea seperti yang selama ini gue liat dari layar kaca di Kdrama.
Melainkan gimana kerasnya kehidupan di sana.

Seperti yang kita tau dan harus tau, kerja di luar negeri ga selalu menyenangkan. Gak semudah yang bisa kita bayangkan. Gak seindah yang bisa kita liat di TV. Banyak banget masalah yang bisa saja muncul.
Malah belum tentu lebih gampang dari kerja di negara sendiri. Sebetulnya contohnya udah banyak.
Seperti beberapa kisah TKI yang kurang beruntung di luar sana. Di Malaysia, Taiwan, Kuwait, Arab Saudi.
Jadi inget blognya om didats yang lagi kerja di Kuwait. Beliau banyak cerita soal pahitnya kenyataan hidup di Kuwait. Sedih deh kalo baca post dia soal TKW Indonesia di sana.

Sama sulitnya seperti di korea seperti yang digambarkan penulis di buku MPSA (walau ga sepahit di kuwait sih), bahwasanya jadi pekerja di korea itu berat. Jam kerjanya panjang, belum lagi beban pekerjaannya pun berat.
Masalah lainnya, biaya hidup di sana gak bisa dibilang murah.
Belum lagi soal PHK.
Gak heran kenapa kita sering denger banyaknya kasus bunuh diri di sana. Buat penduduk asli aja masih terbilang berat, gimana buat pendatang?
Jelas lebih berat. Karena Diskriminasi kepada kaum minoritas masih belum bisa hilang sepenuhnya.

Itulah sebabnya, 'think positive' emang penting, tapi waspada kemungkinan terburuk juga penting.
Sekali lagi, ini mengingatkan agar kita bisa melihat sesuatu dari berbagai sisi, gak cuma dari satu sisi aja.

Well, Meski buku ini tidak termasuk ke dalam list 'best seller' or something, tapi gue rasa ini bisa jadi teman yang asik untuk santai di sore hari. Asik juga buat sarana 'pembuka mata'. :p

Jadi berkhayal, ada gak ya, buku semacam ini yang bersetting di jepang? jadi pingin baca.
Kalo belum ada, Mungkin gue akan membuat satu jika gue diberi kesempatan merasakan kehidupan di jepang. :p
Aminn...

Buat yang penasaran sama MPSA, mending baca sendiri aja. :p

Rating: 7.3

Gambar diambil dari : goodreads.com

***

CONVERSATION

0 COMMENTS:

Posting Komentar

Jika punya pertanyaan, silakan post Comment di bawah ^^

Back
to top