Money Can't Buy Everything :)

Sabtu, 28 Juli 2012

Masalah satu ini cukup membuat gw tergelitik untuk berkomentar.
Gimana engga?
Setiap kumpul bareng sama anak-anak itu, masalah ini selalu ikut-ikutan keserempet dan dibahas terus. Dan yang membuat gw gatel adalah, gw sama sekali gak setuju sama pemikiran mereka.

Apa sih masalahnya?

Alkisah, salah seorang temen gw, si X dahulu pernah menjalin hubungan dengan Y dan suatu hari mereka putus. Sebenernya putusnya juga udah cukup lama. Makanya ga ngerti juga kenapa masalah ini masih sering diungkit-ungkit. :))

Masalah bermula ketika anak-anak bertemu dengan si Y yang sekarang sudah terlihat mapan, sukses, dan mempunyai masa depan cerah.

Langsung deh mereka ribut ngebahas hal ini di depan X.
Mereka menganggap si X melakukan kesalahan besar dengan melepaskan si Y yang sukses dan punya masa depan cerah itu.
Sebenernya sih waktu X dan Y masih pacaran pun, menurut gw Y udah cukup sukses walaupun belum sesukses sekarang. Jadi sepertinya perbedaannya ga terlalu signifikan.

Gw tau omongan mereka punya kadar bercanda lebih banyak dibanding seriusnya. Tapi menurut gw udah agak keterlaluan ketika di twitter mereka menyalahkan si X secara bertubi-tubi dan memojokkan dia. Apalagi menurut gw, apa yang mereka katakan itu ga sepenuhnya bener.
Gw pun merasa harus ikut berkomentar. Gw menyuarakan pendapat gw agar mereka semua baca.

Sebenernya gw ga mau ribut.
Tapi tetep gw juga harus kasih tau ke mereka kalo apa yang menurut mereka benar, belum tentu benar juga menurut orang lain.
Mereka semua temen gw. Itulah alasannya kenapa gw ga bisa diem gitu aja.
Mereka harus tau kalo mereka itu salah. Karena temen, gw ga bisa membiarkan mereka tenggelam dalam pemikiran yang menyimpang. Mereka harus dibawa ke jalan yang benar. :))

Di sini gw sama sekali ga ada niat membela X.
Masalahnya, menurut gw, mau lanjut atau pisah, semua murni hak si X dan ga bisa diganggu gugat oleh siapapun. Toh yang merasakan kenyamanan bersama si Y itu kan dia. Bukan outsiders yang (pastinya) gak tau gimana kehidupan X dan Y serta seperti apa sifat asli Y. Bahkan para klompencapir (kelompok pencela dan pencibir) itu cuma liat dari luar aja.
Jadi menurut gw apapun alasannya, mereka sama sekali ga ada hak untuk mengintervensi. Bahkan memojokkan (meskipun cuma bercanda).

Ya, gw pun gatau masalah apa yang sebenarnya mereka hadapi, tapi apapun itu, gw yakin pasti cukup prinsipil. Kalo engga ga mungkin mereka sampe putus. Dan pastinya si X juga udah berpikir masak-masak sebelum membuat keputusan.

Terlepas dari X adalah temen gw (atau bukan pun), gw harus katakan bahwa gw salut dengan keputusan yang dia ambil.

Dia ga takut mengambil risiko berpisah dengan si Y yang notabene kariernya udah mapan.
Dia berani putus dengan mantannya ketika dia merasa ada masalah diantara mereka (walaupun notabene si Y punya masa depan cerah).
Tau dari mana ada masalah di antara mereka?
Setiap manusia pasti punya masalah.
Silakan bilang gw sotoy (kalo pendapat gw salah) tapi ketika mereka memutuskan untuk berpisah, rasanya ga mungkin bila tidak ada satu pun masalah di antara mereka.
Ga mungkin juga dong, ga ada apa-apa, ujug-ujug putus gitu aja. Ga ada juga orang yang menjalin hubungan dengan tujuan pengen berpisah. :|

Yang membuat gw salut, menurut gw, keputusan yang diambil oleh X menghantarkan dia masuk ke dalam kategori cewek yang gak materialistis. Yang tidak hanya menilai seseorang dari materi.
Dia bisa mengenyampingkan fakta bahwa si Y udah mapan, sukses dan bisa tetap kekeuh memutuskan untuk pisah ketika ada hal lain yang membuat dia tidak nyaman dalam hubungan itu.
Gw aja belum tentu bisa mengambil keputusan seperti yang dia ambil.

So that's a great thing!
Makanya gw berusaha membela keputusan dia yang unfortunately saat itu disalah-salahkan segala.

***

Tapi masalah ga cuma berhenti sampai di situ. Anak-anak pun ga setuju sama pemikiran gw bahwa cewek yang menomorsatukan materi itu adalah cewek matre.
Menurut mereka, materi itu penting dan mereka sama sekali ga setuju kalo orang yang mengutamakan materi itu dikategorikan matre.

Apa seseorang yang menomorsatukan materi itu ga bisa dibilang matre?
Lho.

Lalu apa yang bisa dijadikan parameter untuk menggolongkan sesorang ke dalam kategori Materialistis?

Buat gw, menomorsatukan materi dan mengenyampingkan segalanya = matre. titik.


-Mohon maaf sebelumnya, kalimat-kalimat selanjutnya bisa jadi cukup frontal.-

Cewek yang mau jalan sama om-om tua, gendut, dan hidung belang tapi tajir, apa namanya kalo bukan cewek matre?
Cowok muda yang mau nikah sama cewek yang umurnya ga jauh beda sama ibunya tapi punya kekayaan bermilyar-milyar itu apa coba namanya kalo bukan matre?
Mahasiswa yang mau jadi temen jalan tante-tante kaya yang bahkan dia ga kenal itu namanya apa kalo bukan matre?
Cewek yang terus-terusan bertahan sama cowok yang kariernya bagus walaupun mereka ga punya kecocokan sifat sama sekali dan setiap hari berantem terus itu juga bukan matre? Cinta mati kah? Kalo cinta ga mungkin mereka berantem terus kan.
Well, balik lagi kalo cuma mementingkan materi tok dan mengabaikan yang lain, buat gw ga lain dan ga bukan adalah matre.
Perlu digaris bawahi disini, "Menomorsatukan materi dan mengabaikan hal lainnya". Itu yang masuk ke dalam katerogi matre dalam versi gw.

Memang pekerjaan/karir itu penting. Gw pun ga mau punya suami males, pengangguran, dan yang ga mau usaha.
Tapi karir juga bukan segalanya.
Masih ada hal lain yang ga kalah penting. Seperti agama, fisik, kecocokan, sifat, dan kenyamanan. Mungkin masih banyak lagi selain 3 hal itu yang perlu dipertimbangkan sebelum materi.
Bukannya sombong.
Tanpa uang, kita memang ga bisa beli apa-apa. Tapi ada juga yang ga bisa kita beli dengan uang.
Apa bisa menyembuhkan sakit hati dengan cara membeli hati baru pake uang satu kantong plastik?

Mungkin mereka-mereka itu mau punya pasangan yang super kaya tapi cuek, ga pedulian, dan sifatnya jelek.
Mungkin mereka juga mau punya suami/istri kaya raya yang setiap hari kerjaannya bikin pasangannya sakit hati.
Tapi orang lain belum tentu.

Buat gw, materi memang penting, tetapi bisa hidup dengan damai itu lebih penting.

Dan lagi hidup itu yang penting kan berkecukupan ya, nek...
Cukup buat beli semua yang kita mau. #Eh.
Lagi pula, kalo mau mengejar materi kenapa harus mengandalkan orang lain? Padahal kita sendiri pun bisa berusaha mendapatkan apa yang kita mau tanpa harus bergantung pada orang lain (apalagi yang belum tentu cocok sama kita).
Ya ga sih?
:D

N.B:
"Tulisan gw di atas sama sekali tidak bermaksud menyinggung orang lain.
Ini murni bertujuan menyampaikan pendapat gw pribadi.
No hard feelings. Untuk yang tidak setuju akan pendapat gw, silakan lanjutkan pemikiran yang anda anggap benar Gw ga memaksakan anda untuk menyetujui pendapat gw dan gw pun ga memaksakan anda untuk berpikir seperti gw. :)"

Terima kasih untuk yang telah membaca post ini dari awal sampai selesai. :*

***

CONVERSATION

2 COMMENTS:

  1. Winniiii, gw setuju banget money can't buy everything...hidup damai, tenang, nyaman, bahagia, emang jauh lebih penting...btw, orang yang bertahan sama pasangannya yg notabene pasangannya itu punya harta tapi kerjaannya berantem terus tapi mereka tetep mempertahankan hubungan emang bukan cinta mati, win. Tapi cinta buta, iya nggak ?

    BalasHapus
  2. haha iya kali ya, jo.
    atau mungkin mereka itu tipe orang yang menjalin hubungan karena terbiasa dan takut untuk membina hubungan dari awal :v
    banyak kejadian tuh :|

    BalasHapus

Jika punya pertanyaan, silakan post Comment di bawah ^^

Back
to top