Taktik dagang yang salah?

1 November 2012

Indonesia ini aneh.

Tingkah laku masyarakatnya ada-ada aja. Selalu ada satu atau dua (atau banyak) yang abnormal.
Pasti ada yang minta banget dinyinyirin.
Banyak banget yang bikin orang-orang yang gamau ngaku banyak kerjaan  ga ada kerjaan macam gw, tergelitik untuk berkomentar.

Contohnya yang satu itu.


Tau dong, salah seorang tokoh (uhm lets say tokoh politik) yang entah gimana ceritanya, tau-tau nerbitin biografi dan dalam waktu singkat tau-tau itu buku udah dapet predikat best seller aja di semua toko buku.

Tambah lagi, iklan yang mempromosikan buku ini sering banget muncul di TV dan yang lebih gila lagi, iklan ini muncul ketika prime time!
Absurd.
Sangat absurd.

Well, kenapa gw bilang absurd?
Karena jujur aja baru kali ini gw ngeliat ada orang jualan buku dengan cara 'gila-gilaan tayangin iklan di TV'.
Sebelum-sebelumnya, yang gw tau, penulis biasa mempromosikan bukunya lewat acara seminar, talkshow, workshop, atau yang palng standar bedah buku. Sebatas itu.
Itu normal.
Buat gw.

Kalo produk sekelas shampo pant*ne atau minuman p*cari sweat gencar pasang iklan ketika prime time, itu hal yang normal, secara mereka menjual produknya dalam skala besar. Keuntungannya pun ga sedikit. Dan pastinya mereka memang mengalokasikan dana khusus untuk promosi produk mereka lewat iklan TV.

Tapi ketika ada seorang penulis mempromosikan bukunya lewat iklan TV, gw melihat ini sebagai sesuatu yang ajaib.
Masalahnya, apakah keuntungan penjualan buku bisa sebesar keuntungan penjualan produk dari perusahaan yang gw sebutkan di atas tadi? Rasanya tidak.

Yang gw tau, royalti yang didapat oleh penulis dari hasil penjualan buku tuh relatif kecil. Jarang ada penulis yang bisa foya-foya cuma dengan mengandalkan royalti bukunya aja.
Paling-paling cuma penulis sekelas J.K. Rowling yang bisa hidup 'terjamin' dan bisa disebut jutawan karena buku-buku karangannya udah beredar di seluruh dunia plus sukses serta laris diborong pembaca.

Tentunya buku si tokoh ini belum mencapai kesuksesan seperti J.K Rowling dong ya...
Ya dong...

Dan lagi kita semua tau, biaya pemasangan iklan di TV itu sama sekali gak murah. Butuh biaya yang besar buanget malah. Bisa mencapai ratusan sekali tayang. Apalagi saat prime time. Lebih wuih lagi.

So, it means, ga mungkin hasil penjualan buku itu bakal nutup biaya promosi. Royalti buku best seller indonesia yang udah malang melintang di toko buku dan membuat penulisnya jadi selebriti aja rasanya ga mungkin bisa menyentuh angka ratusan juta. Apalagi milyaran.
Tambah lagi buku biografi ini juga baru beredar di indonesia aja. Ga kayak harry potter yang udah diterjemahin ke berbagai bahasa. Jadi bisa dikatakan, scope konsumennya gak terlalu besar.

Jadi dari mana biaya promosi itu didapat jika bukan berasal dari royalti buku tersebut (yang notabene jumlahnya kecil)?
Yang paling masuk akal, biaya promosi yang gila-gilaan itu ya diambil dari kocek pribadi si tokoh yang kisah hidupnya dibukukan itu.
Siapa lagi?
Karena rasanya mustahil penerbit 'mampu' atau 'mau' membiayai semua itu.

***

Kata dosen pembimbing gw, menyelesaikan masalah kecil dengan cara yang rumit itu bisa diibaratkan seperti berusaha membunuh nyamuk pake meriam.
Kalo dalam kasus ini mungkin bisa dianalogikan sebagai 'Berusaha menjual sedikit kapas dengan modal sebuah istana'. Dapet sih uang hasil penjualan kapas itu, tapi istananya udah terlanjur habis dan ga mungkin balik lagi (Untuk saat itu sih, entah jika nantinya bisa kembali lagi :p).

Yang gw tau sih ya, yang masuk logika, setau gw, prinsip orang dagang itu adalah 'dengan modal seminimal mungkin, kita harus bisa menjual dengan harga yang lebih tinggi dari modal agar mendapat keuntungan maksimal'.
Diliat dari prinsipnya aja, apa yang mereka lakukan ini udah ga cocok.
Jadi apakah Strategi yang mereka gunakan ini masuk akal?
Jawabannya tidak.
Ga akan ada pengusaha normal yang rela menghabiskan hartanya untuk modal penjualan suatu produk yang pasti diketahui hasilnya ga akan mengembalikan harta yang udah dia keluarkan.

***

Pertanyaannya apakah buku tersebut begitu penting sampai harus dibaca oleh seluruh masyarakat indonesia? Sampai-sampai ada yang rela membayar biaya promosi gila-gilaan demi menaikkan penjualan buku tersebut. Segitu pentingnya? Penting banget?

All i have to say, it must be something here then ._.
Ini pasti konspirasi. #eh
Pati ada tujuan dibalik pemasaran buku ini.

Mendongkrak karier politiknya, mungkin?
Mendulang simpati, mungkin?
Menggiring opini publik atau dengan kata lain sebagai sarana pencitraan, mungkin?
Mungkin...
Saya pun tak tahu pasti.

Maybe we all know.
Mungkin kita semua bisa berspekulasi.
Mungkin dengan melihat sekilas kita semua bisa tahu apa motifnya melakukan itu semua.
Atau malah mungkin udah jadi rahasia umum.

Ya sih, cuma masalahnya mbok jangan terlalu gamblang dan jadi jelas keliatan ada apa-apanya gini toh ya, ceu...
Kan bisa pake taktik yang lebih ciamik ala-ala freemason yang bikin kita semua ga nyangka bahwa ada sesuatu di belakang sana.
Kalo kayak gini kan bikin kita orang jadi nyinyir bawaannya~
Heu.

*Kembali Lanjut nyulam*

***

NB:
Post ini hanyalah fiksi belaka.
Jika ada kemiripan nama tokoh, peristiwa, dan tempat, mungkin hanya sebuah kebetulan.

Bukan mungkin, tapi pasti. Pasti adalah sebuah kebetulan. :p
Kebetulan aja yang ngepot lagi stress dan pikirannya ngelantur kemana-mana.

Well, para pembaca yang budiman, perihal kata-kata yang saya tulis di atas tak perlulah dipikirkan terlalu njelimet, karena ini hanya sebuah opini. :p

Dan 'NB' ini sebenarnya juga sebuah fiksi.
Your whole life is a lie!

*Lanjut nyulam lagi*

***

CONVERSATION

4 COMMENTS:

  1. lah yang punya TV kan dia win.
    mau isi TV nya iklan dia mulu juga bodo amat, ngga abis duit dia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ceritanya gw lagi ngomongin siapa sih? :p

      ***

      Yah, katakanlah 'si orang' yang gw omongin ini memang benar punya tv (walaupun belum tentu bener dia yang gw omongin, ya :p).

      Kita anggap dia memang ga memakai uangnya untuk bayar iklan itu karena tvnya milik dia.
      Walaupun uangnya ga habis, sesungguhnya dia tetep rugi.

      Karena di saat dia memilih untuk menayangkan iklan produknya sendiri, dia harus mengenyampingkan produk lain yang bisa saja mau membayar mahal untuk memasang iklan di saat yang sama.
      Dia bisa dapet uang ratusan juta bahkan milyaran jika dia menayangkan iklan produk lain di waktu-waktu yang dia gunakan untuk menayangkan iklan produknya sendiri.

      Seorang pengusaha pastinya juga berpikir soal untung rugi.
      Walaupun ga kehilangan uang, tapi dia juga ga bisa dapet uang (yang padahal seharusnya bisa dia dapetin).
      Itu juga adalah kerugian (besar) loh dan tentunya sebuah pengorbanan yang tidak sedikit (untuk hasil royalti yang cuma sedikit).

      Belum lagi dia harus bayar mahal untuk iklan di stasiun tv lain yang bukan milik dia.

      Tentunya sungguh-sungguh tidak mungkin jikalau tidak ada udang di balik perkedel ya kan ya...

      Well, maafkan jika otak dagang gw telah merajalela.

      Terima kasih, saudari rani sudah menyempatkan diri berkunjung ke blog ini dan membaca post saya.
      Terima kasih juga komennya :*

      Hapus
  2. Balasan
    1. hohoo
      tentu saja.

      menyulam iman dan taqwa.
      *ditimpuk

      Hapus

Jika punya pertanyaan, silakan post Comment di bawah ^^

Back
to top