Trip to Manado with Summitra

12-15 februari 2014

Heyhooo...
Saatnya aku kembali dan bercerita.
Kali ini cerita perjalanan ke Manado bersama teman-teman kantor.

Day 1
Entah ini kesengajaan atau bukan, jadwal keberangkatan kami sungguh diluar dugaan (gw). Pesawat pukul 5.30! Dan travel agent menyarankan untuk datang 2 jam sebelum berangkat. Jadilah gw berangkat dari rumah jam 2.45....
*tepuk tangan

Partner duduk, tidur, jalan selama perjalanan ini

Karena semua sudah dihandle oleh pak christian dan pak lino, kita semua ga perlu urus macem2 tinggal santai melenggang bawa diri sendiri.



Kompakan sama bapak di pojokan
Sayangnya pesawat musti telat agak lama karena entah kenapa musti muter dulu, kami baru berangkat sekitar pukul 6 wib dan tiba di manado pukul 8.30 wib atau 9.30 wita. Perjalanan ke manado ini memakan waktu sekitar 2 jam 40 menit.
Daan masuklah kami semua di bandara sam ratulangi~

Ciwi-ciwi Summitra minus satu



Summitra Crew + Family

Akhirnya gw bisa menginjakkan kaki di pulau sulawesi untuk pertama kalinya dan ga tanggung2, langsung ke sulawesi utara!
Setelah puas foto2 di bandara, kami digiring naik ke bus oleh tour guide kita dari mapanget tour, mereka berdua asli dari manado. Merekalah yang akan menggembalakan kami semua selama berada di manado.
Si mas ini memperkenalkan dirinya. Namanya nyong andre.

Nyong itu sebutan untuk laki2 yang belun menikah di manado. Sementara untuk laki-laki yg sudah menikah adalah Om. Untuk perempuan juga ada. Nona untuk perempuan yg belum menikah, lalu Tanta untuk perempuan yang sudah menikah.
Pesan nyong andre sih agar dia ga dipanggil 'monyong' aja. ._.

Dari bandara, kami langsung diajak makan di resto mapanget di jalan AA. Maramis. Judulnya sih makan siang, padahal jam 10 juga belum ada.
Resto ini cozy banget. Selain ruang utama, ada saung besar di atas kolam ikan yg di sekelilingnya banyak bunga2 anggrek bergelantungan.




Kebetulan banget begitu kita beranjak dari bandara, hujan turun deraaaaaaas sekali kayak dituang dari ember raksasa. Dan berlangsung sampai kita selesai makan. Agak deg-degan juga bakalan ada banjir bandang susulan. Tapi syukurlah hujan segera berhenti dan kita semua bisa melanjutkan perjalanan kami selanjutnya yakni City tour, berkeliling kota manado.

Bis meluncur ke kawasan Kampung cina manado setelah sebelumnya melewati Klenteng Ban Hing Kiong yang berusia sekitar 300 tahun. Suasana di klenteng ini masih kental dengan perayaan imlek. Menurut nyong andre, biasanya sekitar setengah bulan setelah imlek ada semacam festival di sekitar klenteng ban hing kiong, tetapi menurut mereka, karena tahun ini ada banyak bencana, perayaan tersebut tidak dilakukan di luar klenteng. Ah, sungguh sayang...

Setelah berkeliling di pusat kota yg cukup imut ini, kita diajak untuk naik ke kawasan citra land, yaitu perumahan milik Pak Ciputra untuk melihat monumen yesus memberkati. Konon patung ini adalah patung Isa tertinggi kedua di Dunia dengan tinggi 51 meter. Yang paling tinggi tentunya yang ada di Rio.

Manado rasa Rio de Janeiro
Jarak untuk menuju ke bukit sebenarnya ga terlalu jauh. Tapi agak curam dan terasa banget tanjakannya. Mesin bus sampai menggerung-gerung nyaris kepayahan. Untung sopir bus kami, bang Jay sudah jago sekali meliuk-liukkan ban di atas jalan yang curam. Top Pak Jay!

Setelah puas foto-foto di atas bukit, kita menuju ke hotel untuk check in dan beristirahat sebentar. Ternyata ada salah penempatan kamar untuk gw dan rani. Kita berdua minta kamar twin, ternyata malah dikasih kamar double. Ternyata ketuker sama keluarganya Kang eful. Untuk pindah, kita musti tunggu 30 menit.  Gapapa lah ya daripada musti satu kasur berdua lagi sama si Nona satu itu. 



Pemandangan dari balkon kamar

Jam 3 sore wita kita dijemput untuk melihat sunset di tepi laut. Kami diantar ke resto tepi laut di jalan boulevard dan disuguhi pisang goreng plus sambal roa. Cara makan pisang goreng di sini lucu, pisang yang manis dibalut tepung gurih lalu dicocol sambal ikan yang lumayan pedas. Awalnya agak aneh sih menurut gw. Tapi lama-lama enak juga. Hahaha.

Cemilan ini disuguhkan bersama es gula merah plus kelapa muda dengan potongan tebal-tebal. Sedaaaapp~

Pisang goreng sambal roa


Selepas magrib, kita diantar untuk makan lagi di restoran Wahaha yang masih berada di kawasan boulevard.
Restorang yang cocok menampung warga summitra karena dilengkapi dengan pemain keyboard. Hari yang indah ini pun ditutup dengan performance artis summitra.



Day 2
Hari ini rencananya kami akan berkelana ke pulau Bunaken. Hari istimewa yang paling gw tunggu2 selama perjalanan ini. Namun ternyata begitu bangun, Manado sudah basah diguyur hujan dan gerimis pun juga masih ikut mengiringi perjalanan kami ke dermaga.


Karena cuaca masih sendu, keberangkatan kami ke bunaken sempat tertunda. Menurut mereka, perjalanan harus ditunda untuk memastikan bahwa cuaca aman dan air laut juga aman. Its ok~


at Lobby Hotel


Pukul 9 wita kita akhirnya bisa berangkat ke taman laut dengan speedboat. Sayangnya pengalaman pertama gw dengan speedboat agak kurang menyenangkan. Karena perahunya cepet banget dan goyangnya lumayan kerasa, perut rasanya muaaal banget. Di perjalanan sih masih bisa ditolerir tapi pas kapal berhenti untuk pindah ke submarine gw udah ga tahan lagi karena goyangan makin kenceng. Dan gw pun memberi makan ikan2 cantik dari isi perut gw. Maafkan aku, ikan...

Setelah itu perut gw pun belum membaik. Masuk ke submarine, goyangan makin kerasa. Karena mual, konsenterasi terpecah. Gw jadi ga bisa banyak menikmati pemandangan laut. Tambah lagi kaca submarine itu pun agak kotor jadi view dasar laut juga ga terlalu terlihat dari kejauhan.




Ketika di submarine, ternyata ada yang saking ga tahan goyangan (goyangan kapal memang kenceng banget), beliau muntah di dalam kapal :|. Takut ga tahan dengan baunya, gw akhirnya ikut naik bersama dengan yang lainnya (yang sama2 mual) walau acara berkeliling dengan submarinenya belum selesai. Dan di dek, kami muntah berjamaah. Lagi2 ngasih makan ikan dengan isi perut.

Tapi setelah itu, perut ga terasa mual lagi.

Perjalanan dilanjutkan dengan berpindah kapal ke papa coxy. Yaitu kapal bottom glass yang bagian bawahnya bolong dan dikasih kaca. Jadi ketika meluncur, kita bisa lihat pemandangan di bawah air. Cool!


View dari kapal Bottom Glass



Dari kapal bottom glass, kami berganti kapal lagi dengan kapal biasa untuk berlabuh di dermaga pulau Bunaken. Kami mampir ke salah satu restauran di ujung pantai. Kayaknya sih resto paling besar di pulau ini. Paling mantap memang minum air kelapa asli sambil memandang laut. Apalagi setelah "Memberi makan ikan" tadi.




Pulau bunaken ini bisa dibilang kecil sekali. Menurut wiki sih sekitar 8,08 km². Boleh diukur sendiri kalau ga percaya. Pulau ini cantik dan masih alami banget. Belum banyak tersentuh oleh alat-alat modern. Gw ga banyak melihat rumah di pulau ini dan warganya pun cuma sedikit. Sayangnya ketika air surut banyak banget sampah terlihat di pantai. Sampah-sampah ini terbawa air laut entah dari mana. :'(
Sedih liatnya.
Tolong sekali deh, orang indonesia. Mulailah kalian disiplin untuk satu hal ini. Jangan sembarangan membuang sampah. Sampai kapan alam kita yang cantik mau terus kalian kotori? Mau terus jadi kaum primitif?

***

Setelah menikmati air kelapa, kami berganti pakaian dengan wet suit untuk nyemplung ke laut.
It's Snorkeling Tiiiiiime~

Such a wonderful experience to dive here.
Ga heran tempat ini jadi tujuan wisata penyelam dari seluruh dunia.
Ga heran tempat ini terkenal sekali akan taman lautnya.
Gilaaaa!
Keren banget!
Laut yang luas, ikan yang cantik, Air yang jernih, terumbu karang yang warna-warni, wonderful!
Gw ga bisa bawa apa-apa pas snorkeling selain peralatan, terutama ponsel. Jadi sama sekali ga dapet foto selain yang diambil sama instruktur.

Oh iya. Di perjalanan snorkeling ini kami dibagi per grup. Masing-masing sekitar 6 orang. Beruntung sekali grup kami, grup ikan buntal, dapet instruktur yang asik. Dan kami dapat banyak foto-foto keren yang bikin grup lain iri. Hihihi. Bravo ikan buntal!








Grup Ikan Buntal

Setelah waktu snorkeling habis, kami kembali ke pantai. Setelah mandi dan berganti pakaian, kami semua kembali disuguhi makanan khas manado untuk makan siang. Dengan menu sea food, sea food, dan sea food. Buat kalian yang ga suka sea food, jikalau bertandang kemari, siap-siap belajar makan sea food ya. Karena sebagian besar restoran di tempat ini menyajikan sea food.
Kalo saya sih bahagia sekali. ^^








Sekarang waktunya kembali ke pulau sulawesi. Setelah kenyang makan sea food dan bertransaksi foto dengan mas instruktur, kami segera kembali ke pulau sulawesi dengan speed boat. Tentu setelah membeli oleh-oleh dari para Tanta di sebelah resto.

Di atas speed boat yang hampir mau jalan gw baru menyadari kalo kabel USB OTG gw udah lenyap dari tas. Padahal tadi pas makan siang di resto masih dipake untuk liat-liat foto hasil snorkeling pemberian pak instruktur di flash disk melalui hp. Lah. Gimana dong? Dengan sigap, nyong Andre minta tolong mas-mas yang ada di pulau untuk cek. Mas-mas itu udah pake lari-lari segala tapi ternyata udah ga ada juga di restoran. T.T
Berarti gw harus merelakan ia hilang untuk sementara. Mungkin harus kembali lagi ke sana lain kali untuk menjemput si kabel. Sampai jumpa, kabel. Sampai jumpa, Bunaken!
:)



Sampai di hotel, gw sama rani langsung ganti baju renang, lalu nyemplung lagi di kolam renang hotel. Emang iya masih kurang nyelemnya. Hahaha.

Tapi kayaknya si rani kurang hoki nih. Balik dari kolam, kita ga bisa buka pintu karena kuncinya rusak! Tapi di saat panik, basah-basahan, ada petugas patroli lewat dan memberikan pertolongan. Akhirnya kunci kita ditukar kunci baru dan kami bisa masuk lagi ke kamar. :')




Setelah mandi, kami ikut rombongan ibu-ibu dan bapak-bapak gembira ini untuk makan di Resto raja sate. Walaupun nama restonya raja sate tapi menu satenya cuma satu porsi. Sisanya yaa Sea food lagiii~




Berakhirlah hari kedua kami di Manado. makan kenyang, hati senang, bobo nyenyak~



Day 3

Setelah dua hari sarapan dengan makanan western (puih), akhirnya pagi ini ingat untuk mengobati rasa penasaran gw mencoba bubur khas manado~

Tapi ternyata gw masih lebih suka jenang Solo... :')
Dasar orang jawa.

Bubur Manado

Hari ini kami akan dibawa berjalan-jalan ke dataran tinggi minahasa.
Keistimewaan Sulawesi Utara ini salah satunya adalah kita bisa menikmati wisata laut dan gunung sekaligus dalam satu wilayah. Jadi kalau kemarin kita ke laut, hari ini kita bisa ke gunung (Lama-lama jadi ikutan logatnya si nyong Andre).


Di perjalanan berhenti sejenak untuk melihat sawah dan gunung



Destinasi pertama hari ini adalah Bukit Doa Mahawu.
Bukit doa ini memiliki gerbang yang kecil dengan tanjakan yang lumayaaan tinggi. Di bukit doa ini kita bisa menemukan Kapel Bunda Maria yg unik bentuknya. Bukit doa ini sesungguhnya memang tempat ibadah yang sekaligus dijadikan tempat wisata.


Kapel Bunda Maria
Pemandangan dari atas bukit ini sungguh luar biasa. Kita bisa melihat gunung Lokon dan pemandangan kota tomohon.








Menurut cerita nyong Andre, tomohon artinya orang yang berdoa. Karena kota tomohon terletak diantara dua gunung, masyarakat kota tersebut selalu berdoa agar tidak terjadi bencana besar akibat letusan kedua gunung itu. Well, wallahu alam benar tidaknya cerita si nyong ini.

Tujuan selanjutnya yaitu Pagoda Klenteng Ekayana. Di tempat ini kita bisa melihat pagoda yg indah menjulang, belasan patung yang berjajar jalan masuk menuju pagoda, kuil dewi kwan im, patung naga, dan masih banyak patung-patung yang indah-tetapi-saya-tidak-tahu-namanya.
Sayangnya kami tak bisa berlama-lama di tempat ini karena jadwal yang padat dan masih banyak tempat yang harus dikunjungi. Alhasil belum puas berfoto-foto ria sudah diuber-uber untuk kembali ke bis. Heu... 







Dari Pagoda, kami bertolak menuju Danau Tondano untuk melihat keindahan danau terluas di sulawesi utara ini. Tak lupa sebelumnya kami mampir ke masjid di pinggir jalan untuk memberi kesempatan para pria melakukan ibadah di jumat siang ini. 
Selain melihat indahnya danau vulkanik tersebut, kami pun telah disuguhi makan siang di restoran tepi danau. Hmmm...
Menunya tetap ikan ikan dan ikan.





Balik dari Danau tondano, kami diajak untuk mengunjungi bukit kasih. Di atas bukit ini terdapat lima tempat ibadah. Yaitu Masjid, dua Gereja, Pura, dan Wihara. Tempat ini merupakan perlambang kerukunan antar umat beragama. Untuk naik ke atas bukit, kita bisa menggunakan tangga yang konon jumlahnya ada 2.435. Versi kecilnya tembok cina gitu lah kira-kira.
Sayangnya saat berkunjung ke tempat ini, gw lagi agak kurang sehat. Jadi alih-alih memanjat ke atas bukit, gw memilih untuk ikutan pijat sambil berendam air panas di kios-kios kiri kanan tempat wisata. Jadi saat teman-teman lain foto-foto terbang dari atas bukit, gw harus puas dengan berendam air panas bersama ibu-ibu dan bapak-bapak summitra. 


5 Rumah ibadah. Gambar diambil dari zonapetualang.com







Setelah semua ber (di)kumpul(kan), kami langsung berangkat ke tujuan selanjutnya. Yaitu desa Woloan yaitu tempat pembuatan rumah2 adat minahasa. Tapi sayang gw ga ingat apa-apa. Gw tiduuuur terus. Pas bangun tau-tau langit udah gelap dan bus udah jalan terus.
Begitu cross check ke rani, desanya udah lewat dari tadi dan ga banyak yang turun.

Di perjalanan pulang ini kita disuguhi pemandangan ajaib. Ketika melewati jalan trans Sulawesi, kita bisa melihat laut di sebelah kiri dan tebing tinggi di sebelah kiri. Masya Allah...

Sayangnya, akibat kelamaan tidur di bus dengan posisi leher patah ke kiri, selama seminggu berikutnya gw mengalami sakit leher parah. Bahkan hari senin gw sampe ga masuk kerja karena leher tengleng ga bisa digerakin. Oh My~ *Jalan miring gaya kepiting*

Akhirnya sampai juga di kota manado. Sebelum pulang kita mampir Makan malam di resto Nelayan. Resto ini ada di tepi laut dan bentuknya pun seperti kapal. Teteup pula ya menunya IKAN. Untungnya masih ada udang dan cumi juga~




Setelah makan malam, kami dibawa untuk belanja oleh2 di grand merciful building. Konon, toko oleh-oleh ini adalah yang terbesar dan terlengkap di kota Manado plus Klaapertartnya enak buanget. Katanya sih...

Usai ambil oleh-oleh ini itu untuk si ini dan si inu, cukup shock ketika kasir menghitung nominal yang harus gw bayar. T.T


Day 4

Sebenarnya rencana hari keempat ini hanya berdiam di hotel dan menikmati semua fasilitasnya sampai siang. Tapi ternyata si Ibu (Bos gw) berubah pikiran. Ibu menambahkan satu destinasi tur lagi ke kota bitung untuk melihat Tarsius. Yuhuuuu!

Perjalanan kami hari ini diawali dengan kunjungan ke Taman Margasatwa Tandurusa. Kebun binatang ini berisi satwa endemik Sulawesi yang jarang dimiliki kebun binatang di tempat lain.
Misalnya Tarsius. Hewan pemalu ini ga bisa hidup selain di Sulawesi. Mungkin dia hanya bisa beradaptasi dengan iklim tertentu. Si lucu Tarsius ini hanya memiliki satu pasangan seumur hidupnya. Ga ada tuh selingkuh-selingkuhan.





Selain itu di tempat ini kita juga bisa melihat babirusa, kuskus, ayam mutiara, burung maleo, musang sulawesi, dan bermacam-macam burung. 









Sebenarnya kebun binatang ini milik perorangan. Namun dibuka untuk umum. Lokasinya tepat berada di kota bitung. Gw agak amazed melihat betapa wow nya pemilik taman marga satwa ini. Selain kebun binatang ini milik pribadi, lokasinya pun tepat di tepi laut, berbatasan langsung dengan selat lembe. Serasa memiliki pantai pribadi di halaman belakang.
Selain itu tempat ini juga punya dermaga dan tambak pribadi di belakang rumah. Bisa bayangkan betapa wow nya kan?





Setelah puas berkeliling, kami semua berangkat lagi untuk makan siang. Kali ini ke resto puncak manado. View dari tempat ini baguuuuus sekali. Kita bisa melihat pemandangan indahnya kota manado yang di bingkai oleh birunya laut dan gunung. Super!








Setelah makan siang, kami bertolak menuju airport dan harus rela berpisah dengan kota Manado serta nyong-nyong dari Mapanget Tour yang sudah mengawal kami selama beberapa hari ini. Dan sebelumnya bertemu dengan pengantar pesanan klaapertart yang sudah menunggu di airport.

Karena erupsi gunung kelud, pesawat kami harus memutar, tidak melalui rute biasa. Alhamdulillah kami selamat sampai tujuan dan bisa pulang tepat waktu.


Sedikit iklan dari noni-noni Summitra

Berakhirlah perjalanan kami di manado.
Terima kasih, Manado. Kota yang ramah lagi indah.
Terima Kasih Summitra!

I will never forget Manado dengan sejuta keindahannya. Bila diberi kesempatan, gw akan kembali ke sana. Khususnya ke pulau Bunaken untuk menjumpai kabel OTG ku yang tertinggal.

Bye, Manado.




Fakta Manado:
-Manado itu kota yg bersih. Di pinggir jalan jarang sekali terlihat sampah. Ga kayak di jakarta ya =.=

-Atap-atap rumah manado ga ada yg pake genting. Menurut kepercayaan mereka, beratap tanah hanya ketika mereka sudah meninggal.

-Kalo ada orang meninggal, mereka akan pasang bendera setengah tiang.

-Angkutan umum di Manado super keren. Mereka melengkapinya dengan sound system dan bahkan Lcd TV. Pernah suatu ketika, bus kami terjebak macet di depan sekolah dan kami tepat berada di belakang angkutan umum. Lagi macet-macetan, tau-tau terdengar suara musik jedag-jedug cukup keras. Gw heran siapa yang setel musik keras-keras? Dvd ataupun radio Bus mati dan ga ada juga yang putar musik di hp. Ternyata suara musik itu berasal dari angkot di depan! Betapa dahsyatnya itu suara sampai kedengaran ke dalam bus kami. Entah bagaimana menderitanya kuping penumpang di dalam angkot itu. x_x (Atau jangan2 mereka malah suka?)
Pernah juga kita melihat ada satu angkot yang di dalamnya dilengkapi LCD TV 21 inchi! Subhanallah... Di rumah saya aja ga ada yang begitu. >.<
Konon semakin banyak hiburan, penumpang angkutan umum akan semakin tertarik untuk naik kendaraan mereka. *angkat bahu



Nb: Foto-foto di halaman ini kebanyakan adalah foto yang diambil dengan kamera ponsel saya, selebihnya beberapa foto diambil dari kamera Bapak Wahyu dan Ibu Rani. Terima kasih atas foto-fotonyaa~



CONVERSATION

0 COMMENTS:

Posting Komentar

Jika punya pertanyaan, silakan post Comment di bawah ^^

Back
to top